1. ARTI PENGEMBANGAN ORGANISASI
Lebih
dikenal dengan organization development (OD) .Pengertian pokok OD adalah
perubahan yang terencana (planned change).Perubahan , dalam bentuk pembaruan
organisasi dan modernisasi, terus menerus terjadi dan mempunya pengaruh yang
sangat dominan dalam masyarakat kini. Organisasi beserta warganya, yang
membentuk masyakat modern , mau tidak mau harus beradaptasi terhadap arus
perubahan ini. Perubahan perubahan yang terjadi pada dasarnya dapat
dikelompokkan dalam empat katagori , yaitu perkembangan teknologi, perkembangan
produk, ledakan ilmu pengetahuan dan jasa yang mengakibatkan makin singkatnya
daur hidup produk,serta perubahan sosial yang mempengaruhi perilaku, gaya
hidup, nila nila dan harapan tiap orang.
Untuk dapat bertahan , organisasi harus mampu
mengarahkan warganya agar dapat beradaptasi dengan baik dan bahkan agar mampu
memanfaatkan dampak positif dari berbagai pembaruan tersebut dengan
pengembangan diri dan pengembangan organisasi. Proses mengarahkan warga
organisasi dalam mengembangkan diri menghadapi perubahan inilah yang dikenal
luas sebagai proses organization development (OD).
a. SEJARAH PERKEMBANGAN ORGANISASI
Sejarah Pengembangan Organisasi sangat erat
hubungannya dengan teori organisasi. Teori Organisasi meliputi teori organisasi
klasik, teori organisasi neoklasik, dan teori organisasi modern.
Teori Organisasi Klasik
Teori klasik (classical theory) kadang-kadang disebut
juga teori tradisional yang berisi konsep-konsep tentang organisasi mulai tahun
1800( abad 18).
Dalam teori ini, organisasi secar umum digambarkan oleh para teoritisi klasik
sebagai organisasi yang sangat tersentralisasi dan tugas-tugasnya
terspesialisasi, serta memberikan petunjuk mekanistik structural yang kaku dan
tidak mengandung kreatifitas. Dalam teori ini organisasi didefinisikan sebagai
struktur hubungan, kekuasaan-kekuasaan, tujuan-tujuan, peranan-peranan,
kegiatan-kegiatan, komunikasi dan faktor-faktor lain bila orang-orang bekerja
sama.
Teori Klasik berkembang dalam 3 aliran yaitu: teori birokrasi, teori
administrasi, dan manajemen ilmiah.
Teori Birokrasi
Teori ini dikemukakan oleh Max Weber dalam
bukunya “The Protestant Ethic dan Spirit of Capitalism”.
Karakteristik-karakteristik birokrasi menurut Max Weber:
1.
Pembagian Kerja yang jelas.
2.
Hirarki wewenang yang dirumuskan secara baik
3.
Program rasional dalam mencapai tujuan organisasi
4.
Sistem prosedur bagi penanganan situasi kerja
5.
Sistem aturan yang mencakup Hak dan Kewajiban posisi para pemegang jabatan
Teori Administrasi
Teori ini sebagian besar dikembangkan atas dasar
sumbangan Henri Fayol dan Lyndall Urwick dari Eropa serta Mooney dan Reiley
dari Amerika.
Henri Fayol mengemukakan dan mambahas 14 kaidah manajemen yang menjadi dasar
perkembangan teori ini yaitu:
·
Pembagian Kerja / Division of Work
·
Wewenang dan Tanggung jawab
·
Disiplin
·
Kesatuan perintah
·
Kesatuan pengarahan
·
Mendahulukan kepentingan umum dari pada pribadi
·
Balas jasa
·
Sentralisasi
·
Rantai scalar
·
Aturan
·
Keadilan
·
Kelanggengan personalia
·
Inisiatif
·
Semangat korps
Manajemen Ilmiah
Manajemen Ilmiah dikembangkan oleh Frederick Winslow
Taylor tahun 1900. Ada beberapa pendapat tentang manajemen ilmiah, salah
satunya adalah mengatakan manajemen ilmiah merupakan penerapan metode ilmiah
pada studi, analisa, dan pemecahan masalah-masalah organisasi.
Taylor mengemukakan empat kaidah dasar manajemen yang harus dilaksanakan dalam
organisasi perusahaan, yaitu:
·
Menggantikan metoda-metoda kerja dalam praktek dengan berbagai metoda yang
dikembangkan atas dasar ilmu pengetahuan tentang kerja yang ilmiah dan benar.
·
Mengadakan seleksi, latihan-latihan dan pengembangan para karyawan secara ilmiah.
·
Pengembangan ilmu kerja serta seleksi, latihan dan pengembangan secara
ilmiah harus diintegrasikan.
·
Untuk mecapai manfaat manajemen ilmiah, perlu dikembangkan semangat dan
mental para karyawan.
Teori organisasi klasik sepenuhnya hanya menguraikan
anatomi organisasi formal. Dalam organisasi formal ada empat unsure pokok yang
selalu muncul, yaitu:
·
System Kegiatan yang terkoordinasi
·
Kelompok orang
·
Kerjasama
·
Kekuasaan dan kepemimpinan
Menurut para pengikut aliran teori klasik, adanya
suatu organisasi formal sangat tergantung pada empat kondisi pokok, yaitu:
·
Kekuasaan
·
Saling melayani
·
Doktrin
·
Disiplin
Teori Organisasi Neoklasik
Teori Neoklasik secara sederhana dikenal sebagai
aliran hubungan manusiawi(The Human Relation Movement). Teori neoklasik
dikembangkan atas dasar teori klasik. Dasar teori ini adalah menekankan
pentingnya aspek psikologis dan social karyawan sebagai individu maupun sebagai
bagian kelompok kerjanya. Perkembangan teori neoklasik dimulai dengan inspirasi
percobaan-percobaan yang dilakukan di Howthorne dan dari tulisan Huga
Munsterberg.
Percobaan-percobaan ini dilakukan dari tahun 1924 sampai 1932 yang menandai
permulaan perkembangan teori hubungan manusiawi dan merupakan kristalisasi
teori neoklasik. Pada akhirnya percobaan Howthorne menunjukkan bagaimana
kegiatan kelompok-kelompok kerja kohesif sangat berpengaruh pada operasi
organisasi.
Dalam hal pembagian kerja, teori neoklasik mengemukakan perlunya hal-hal
sebagai berikut:
·
Partisipai
·
Perluasan kerja
·
Manajemen bottom-up
Teori Organisasi Modern
Teori modern biasanya disebut juga sebagai analisa
sistem pada organisasi. Teori modern melihat bahwa semua unsur organisasi
sebagai satu kesatuan dan saling ketergantungan, yang di dalamnya mengemukakan
bahwa organisasi bukanlah suatu sistem tertutup yang berkaitan dengan
lingkungan yang stabil, akan tetapi organisasi merupakan sistem terbuka.
Teori modern
dikembangkan tahun 1950, dalam banyak hal yang mendalam teori modern dengan
klasik berbeda, perbedaan tersebut diantaranya:
·
Teori Klasik memusatkan pandangannya pada analisa dan deskripsi organisasi,
membicarakan konsep koordinasi, scalar dan vertikal.
·
Teori Modern menekankan pada perpaduan dan perancangan menjadikan pemenuhan
suatu kebutuhan yang menyeluruh, lebih dinamis dan lebih banyak variabel yang
dipertimbangkan.
Teori Modern menunjukkan tiga kegiatan proses hubungan
universal yang selalu muncul pada sistem manusia dalam perilakunya
berorganisasi, yaitu:
·
Komunikasi
·
Konsep keseimbangan
·
Proses pengambilan keputusan
b. KARAKTERISTIK PENGEMBANGAN ORGANISASI
Karakteristik
organisasi adalah perilaku dan tingkah laku suatu badan/institusi terhadap
kondisi yang ada diluar institusi itu maupun didalam institusi itu sendiri,
artinya dalam dunia bisnisnya selalu fokus kepada pelanggannya yang bukan hanya
dari luar perusahaan itu tapi juga orang-orang di dalam perusahaan yang
merupakan aset perusahaan itu sendiri. (Maksudnya Masih jarang sebuah institusi
itu menganggap karyawannya berpotensi untuk jadi aset dan akhirnya kurang
mendapat perhatian dari perusahan itu sendiri), jadi semua mengarah kepada mutu
yg ditentukan oleh 2 hal seperti yg tertulis sebelumnya.
Kerakteristik Organisasi yang efektiv adalah ;
- Concern
terhadap SDM dan memperlakukan SDM sebagai Asset yang berharga
- Program Training dan Pengambangan terbuka seluas-luasnya
- Program kompensasi terlaksana dengan baik
- Tingkat perputaran SDM rendah
- Top manajemen mempunyai komitmen dan mendukung terhadap perkembangan SDM
- Semua Team turut berpartisipasi dalam membuat kebijakan organisasi
Secara umum karakteristik pengembangan organisasi :
1. Keputusan yang penuh pertimbangan maksudnya adalah suatu hasil yang
diperoleh berdasarkan strategi yang telah direncanakan dalam rangka mewujudkan
perubahan organisasional yang memiliki sasaran jelas berdasarkan diagnosa yang
tepat tentang permasalahan yang dihadapi oleh organisasi.
2. Diterapkan pada semua sub-sistem manusia baik individu, kelompok, dan
organisasi maksudnya adalah menerapkan cara-cara baru yang diperlukan untuk
meningkatkan kinerja seluruh organisasi dan semua satuan kerja dalam
organisasi.
3. Menerima intervensi baik dari luar maupun dalam organisasi yang mempunyai
kedudukan di luar mekanisme organisasi maksudnya adalah menerima segala bentuk
campur tangan misalnya dalam bentuk pendapat, baik dari anggota yang termasuk
dalam sebuah organisasi atau berbagai pihak dari luar organisasi.
4. Kolaborasi maksudnya adalah kerjasama antara berbagai pihak yang akan terkena dampak
perubahan yang akan terjadi.
5. Teori sebagai alat analisis maksudnya adalah menggunakan pengertian
yang disebutkan secara tertulis lalu diterapkan sebagai alat analisis untuk
mendapatkan suatu hasil yang memuaskan dari suatu pengembangan organisasi.
6. Mengutamakan potensi manusia maksudnya adalah mengandung nilai
humanistik dimana pengembangan potensi manusia menjadi bagian terpenting.
7. Interaksi dan Interpendensi maksudnya adalah menggunakan pendekatan
komitmen sehingga selalu memperhitungkan pentingnya interaksi, interaksi dan
interdependensi antara berbagai satuan kerja sebagai bagian integral di suasana
yang utuh.
8. Pendekatan Ilmiah maksudnya adalah menggunakan pendekatan ilmiah dalam
upaya meningkatkan efektivitas organisasi.
c. ORGANISASI MASA DEPAN
Dalam abad duapuluh satu ini setiap organisasi akan dan harus menghadapi
persaingan yang semakin kompleks dan
menantang, baik persaingan aktual maupun potensial, yang aktual harus dihadapi
dan yang potensial perlu diantisipasi. Dalam menghadapi semua itu terdapat dua
pendekatan yang mungkin diambil oleh suatu organisasi yaitu :
1) Pendekatan yang berbasis sumberdaya tangible, dan
2) Pendekatan yang berbasis Sumberdaya manusia (intangible).
Organisasi yang menganggap bahwa persaingan hanya bersifat fisik pendekatan pertama
yang akan diambil, organisasi hanya berputar-putar dalam masalah yang nyata,
karena memang inilah yang paling bisa dilihat dan ditunjukan, namun bagi yang
melihat persaingan ke depan lebih mengarah pada persaingan pengetahuan, tanpa
mengabaikan hal fisik, maka pengembangan SDM akan menjadi prioritas, dan ini
perlu komitmen yang kuat karena time-response dari cara ini lama dan susah
dilihat apalagi ditunjukan, namun pendekatan ini sebenarnya akan sangat
dirasakan dalam menyehatkan dan mengembangkan suatu Organisasi menjadi
organisasi pembelajar (learning
organization).
Para Pakar berpendapat bahwa dalam era dewasa ini pandangan yang berbasis SDM
nampaknya lebih penting, mengingat persaingan yang terjadi justru ditentukan
oleh bagaimana sumberdaya manusia tersebut berperan dan berkreasi bagi kemajuan
organisasi, dan dalam konteks ini pendidikan menjadi salah satu faktor penting
dalam meningkatkan kemampuannya. Sumberdaya manusia / Human Capital merupakan
sumberdaya strategis, bertambah secara inkremental bukan alokatif, karena
merupakan sumberdaya yang berbasis
pengetahuan (knowledge based resources) yakni sumberdaya yang mencakup
keterampilan, kemampuan, kapasitas serta kapabilitas pembelajaran. Kapasitas
dan kapabilitas tersebut pada gilirannya akan dapat memupuk sumberdaya sosial
yang juga amat diperlukan dalam bentuk jaringan kerja baik internal maupun
dengan pihak eksternal organisasi, ini berarti networking juga menjadi hal yang
penting dalam memenangkan persaingan. Pengembangan Sumberdaya manusia merupakan
prasyarat bagi pengembangan organisasi, artinya tanpa hal itu orang bisa punya
alasan untuk meyakini kecilnya kemungkinan organisasi untuk tetap hidup dan
bertahan dalam era kompetisi.
Sebuah organisasi pada hakekatnya dibangun oleh sekumpulan orang-orang dengan
tujuan bersama, bukan tujuan yang sama. Organisasi, seperti dikatakan Mintzberg
merupakan sekumpulan otoritas dan fungsi-fungsi. Disebut juga dengan changes of commands.Diilustrasikan dengan perumpamaan
organisasi adalah sebuah kano atau perahu yang sedang dilombakan. Sebuah kano
dan orang-orang di dalamnya adalah tak lain diibaratkan organisasi. Dengan
tujuan bersama; menang perlombaan. Koordinasi antara tangan kiri-kanan pada
orang-orang di dalam kano atau atlet, adalah sesuatu yang krusial. Diperlukan
harmonisasi untuk mencapai kemenangan. Dan harmonisasi itu dicapai melalui
suara genderang. Suara genderang merupakan sebuah komando bersama. Dengan suara
genderang pula tercipta distribution of power dan balancing of power. Begitu pula dengan jenis perahu yang
lebih besar. Misalnya kapal Titanicyang tenggelam dan
ditengarai bahwa itu merupakan hasil keteledoran sedetik oleh seorang awak
kapal yang bertugas mengamati adanya gunung es. KapalTitanic sudah tidak dikomandani oleh penabuh
genderang, karena begitu besarnya kapal dan banyaknya orang. Sudah ada kapten
kapal dan segala piranti teknologi canggih sebagai garis komando kapal.
Sehingga jika terjadi suatu tanda kerusakan alat, maka garis komando akan
berjalan sebagaimana mestinya. Seorang awak kapal yang mengetahui hal tersebut
akan menyampaikannya kepada pimpinannya, dan seterusnya hingga sampai ke
telinga Kapten kapal. Ada informasi yang memang harus cepat disampaikan, tetapi
ada pula informasi yang juga tidak perlu diketahu sampai Kapten kapal karena
bisa diselesaikan sendiri. Begitulah pengibaratan sebuah organisasi. Diisi
dengan berbagai macam orang dengan kondisi yang bermacam-macam, dan rantai
komando yang beragam pula. Katakanlah di sebuah perusahaan manufaktur, maka
yang menjadi koordinasi atau penabuh genderang adalah schedulling atau penjadwalan. Semua lini harus
mematuhi jadwal yang telah dibuat.
Dalam organisasi (baik organisasi perusahaan maupun nonperusahaan) yang
dipentingkan ketika pertama kali berdiri adalah arahannya. Mau kemana
orang-orang yang di dalam organisasi itu. Dengan kata lain apa tujuannya. Jika
dalam horizon waktu yang lebih lama, apa visinya. Jadi, bukan penekanan pada
organisasi seperti apa yang akan dibangun pertama kali.
Menarik sekali konsep yang dikemukakan oleh seorang Jerman H. J. Warnecke. Dia
adalah pengarang buku dalam jenis Automation
Production Management. Diterbitkan pada tahun 1993 oleh penerbit Springer-Verlag (Berlin, New
York). Judulnya adalah The Fractal Company; a
revolution in corporate culture.Buku yang terbilang langka di Indonesia
ini salah satunya membahas mengenai organisasi. Dituliskan di buku tersebut
bahwa sebuah organisasi dapat dianalogikan tersusun atas partikel-partikel
tertentu yang menpunyai wujud yang sama dengan organisasi yang bersangkutan.
Misalnya dalam sebuah organisasi Lab Kampus, maka asisten sebagai penyusun
terkecil Lab sudah bisa dikatakan mencerminkan seperti apa Lab. Asisten sudah
bisa menjadi cerminan seperti apa Lab tersebut dan mau kemana arahannya.
Konsep organisasi masa depan:
1. Lean Organisasi
Tren ke masa depan di dalam pengelolaan organisasi salah satunya adalah
adanya konsep Lean organisasi. Jika
memasuki era milenium banyak sekali konsep lean di dunia manufaktur,
maka sekarang sudah banyak juga yang membahas mengenai konsep lean organization. Konsep dasar lean adalah suatu upaya
terus-menerus untuk menghilangkan pemborosan dan meningkatkan nilai tambah.
Konsep ini berdasarkan pada minimasi
penggunaan sumber-sumber daya (termasuk waktu) dalam berbagai aktifitas perusahaan
melalui upaya perbaikan terus-menerus yang berfokus pada identifikasi dan
eliminasi aktifitas-aktifitas yang tidak bernilai tambah dalam desain, produksi
atau operasi dan management yang berkaitan langsung dengan pelanggan. Dasar
filosofisnya hampir sama dengan lean manufacturing. Yakni mengacu pada
efisiensi dan efektivitas pengelolaan organisasian. Hemat dan cermat.
Katakanlah tingkat koordinasi dalam sebuah organisasi yang memerlukan banyak middle management, maka jika sekiranya malah membebani informasi
yang akan disampaikan ke atas, posisi middle
management dapat dihapus perlahan.
2. Virtual Organisasi
Konsep lain yang menjadi ideologi organisasi di masa depan adalah
organisasi virtual. Tantangan dunia di masa depan mengarah ke hal tersebut.
Yakni dunia maya yang penuh komunitas industri (cyberspace industrial community). Virtual tidak sama dengan fatamorgana.
Jika virtual adalah sesuatu yang tidak berbentuk (Organisasi tidak berbentuk /
OTB) dan menghasilkan sebuah kegunaan. Sedangkan fatamorgana adalah sesuatu
yang tidak berbentuk tetapi tidak nyata. Salah satu contoh yang sudah ada dalam
konsep organisasi virtual adalah situs rajapresentasi dot kom. Situs penyedia
presentasi dari buku-buku referensi sesuai keinginan pelanggan. Di situ hanya
ada satu bagian saja yang merangkap sebagai pemasaran, administrator,
penerjemah, sekaligus direktur. Dan bisa dikatakan organisasi rajapresentasi
tanpa kantor nyata. Sehingga virtual tetapi hasil nyatanya ada. Presentasi dari
buku-buku referensi yang kebanyakan berbahasa Inggris dan bisa dikebut digarap
2 x 24 jam.
3. Plug and Play
Apa yang akan terjadi
di masa yang lebih mendatang lagi, dengan berbagai macam teknologi komunikasi
dan informasi? Jawabannya adalah organisasi yang bersifat Plug and play. Organisasi bisa mengarah kepada
komunitas maya. Dan organisasi tersebut bisa dibilang sangat ringan, sehingga
ke depan, banyak organisasi induk yang punya anak cabang bermacam-macam
organisasi kecil yang menempel. Jika setelah selesai fungsinya, organanisasi
dapat bubar. Dan dalam waktu singkat pula dapat mengumpul lagi untuk
menjalankan sebuah fungsi.
2. PENGERTIAN KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan adalah proses
memengaruhi atau memberi contoh oleh pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi.
Cara alamiah mempelajari
kepemimpinan adalah "melakukannya dalam kerja" dengan praktik seperti
pemagangan pada seorang seniman ahli, pengrajin, atau praktisi. Dalam hubungan
ini sang ahli diharapkan sebagai bagian dari peranya memberikan
pengajaran/instruksi.
Kebanyakan orang masih cenderung mengatakan bahwa
pemimipin yang efektif mempunyai sifat atau ciri-ciri tertentu yang sangat penting
misalnya, kharisma, pandangan ke depan, daya persuasi,
dan intensitas Dan memang, apabila kita berpikir
tentang pemimpin yang heroik seperti Napoleon, Washington, Lincoln, Churcill,
Sukarno, Jenderal Sudirman, dan sebagainya kita harus mengakui bahwa sifat-sifat
seperti itu melekat pada diri mereka dan telah mereka manfaatkan untuk mencapai
tujuan yang mereka inginkan.
A. TIPE - TIPE KEPEMIMPINAN
Ada enam tipe kepemimpinan yang diakui keberadaannya
secara luas.
1) Tipe pemimpin Otokratis
Yaitu seorang pemimpin yang otokratis adalah seorang pemimpin yang:
• Menganggap organisasi sebagai milik pribadi
• Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi
• Menganggap bawahan sebagai alat semata- mata
• Tidak mau menerima kritik, saran, dan pendapat
• Terlalu bergantung kepada kekuasaan formalnya
• Dalam tindakan penggerakannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung
unsur paksaan dan punitif (bersifat menghukum)
2) Tipe Militeristis
Yaitu seorang pemimpin yang bertipe militeristis adalah seorang pemimpin yang
memiliki sifat- sifat:
• Sering mempergunakan sistem perintah dalam menggerakkan bawahannya
• Senang bergantung pada pangkat dan jabatan dalam menggerakkan bawahannya
• Senang kepada formalitas yang berlebih- lebihan
• Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan
• Sukar menerima kritikkan dari bawahan
• Menggemari upacara- upacara untuk berbagai acara dan keadaan
3) Tipe Paternalistis
Yaitu seorang pemimpin yang:
• Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa
• Bersikap terlalu melindungi
• Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan dan
inisiatif
• Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya
kreasi dan fantasinya.
• Sering bersikap maha tahu
4) Tipe Kharismatis
Hingga kini para pakar belum berhasil menemukan sebab- sebab mengapa seorang
pemimpin memiliki kharisma, yang diketahui adalah bahwa pemimpin yang demikian
mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai
pengikut yang jumlahnya sangat besar. Karena kurangnya pengetahuan tentang
sebab musabab seorang menjadi pemimpin yang kharismatis, maka sering dikatakan
bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural
powers).
5) Tipe Laissez Faire
Yaitu seorang yang bersifat:
• Dalam memimpin organisasi biasanya mempunyai sikap yang permisif, dalam arti
bahwa para anggota organisasi boleh saja bertindak sesuai dengan keyakinan dan
hati nurani, asal kepentingan bersama tetap terjaga dan tujuan organisai tetap
tercapai.
• Organisasi akan berjalan lancar dengan sendirinya karena para anggota
organisasi terdiri dari orang- orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang
menjadi tujuan organisasi, sasaran yang dicapai, dan tugas yang harus
dilaksanakan oleh masing- masing anggota.
• Seorang pemimpin yang tidak terlalu sering melakukan intervensi dalam
kehidupan organisasional.
• Seorang pemimpin yang memiliki peranan pasif dan membiarkan organisasi
berjalan dengan sendirinya
6) Tipe Demokratis
Yaitu tipe yang bersifat:
• Dalam proses penggerakkan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa
manusia adalah makhluk termulia di dunia
• Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan
kepentingan dan tujuan pribadi dari para bawahannya
• Senang menerima saran, pendapat bahkan kritik dari bawahannya
• Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses dari padanya.
• Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan kerja tim dalam usaha mencapai
tujuan
• Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin
• Para bawahannya dilibatkan secara aktif dalam menentukan nasib sendiri
melalui peran sertanya dalam proses pengambilan keputusan.
B. TEORI-TEORI KEPEMIMPINAN
Beberapa teori telah dikemukakan para ahli majemen mengenai timbulnya
seorang pemimpin. Teori yang satu berbeda dengan teori yang lainnya.
Di antara berbagai teori mengenai lahirnya
paling pemimpin ada tiga di antaranya yang paling menonjol yaitu sebagai
berikut :
1. Teori Genetie
Inti dari teori ini tersimpul dalam mengadakan
"leaders are born and not made". bahwa penganut teori ini mengatakan
bahwa seorang pemimpin akan karena ia telah dilahirkan dengan bakat
pemimpin.Dalam keadaan bagaimana pun seorang ditempatkan pada suatu waktu ia
akn menjadi pemimpin karena ia dilahirkan untuk itu. Artinya takdir telah
menetapkan ia menjadi pemimpin.
2. Teori Sosial
Jika teori genetis mengatakan bahwa
"leaders are born and not made", make penganut-penganut sosial
mengatakan sebaliknya yaitu :
"Leaders are made and not born".
Penganut-penganut
teori ini berpendapat bahwa setiap orang akan dapat menjadi pemimpin apabila
diberi pendidikan dan kesempatan untuk itu.
3. Teori Ekologis
Teori ini merupakan penyempurnaan dari kedua
teori genetis dan teori sosial. Penganut-ponganut teori ini berpendapat bahwa
seseorang hanya dapat menjadi pemimpin yang baik apabila pada waktu lahirnya
telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat mana kemudian dikembangkan
melalui pendidikan yang teratur dan pangalaman-pengalaman yang memungkinkannya
untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimilikinya itu.
Teori ini menggabungkan segi-segi positif dari
kedua teori genetis dan teori sosial dan dapat dikatakan teori yang paling baik
dari teori-teori kepemimpinan.Namun demikian penyelidikan yang jauh yang lebih mendalam
masih diperlukan untuk dapat mengatakan secara pasti apa faktor-faktor yang
menyebabkan seseorang timbul sebagai pemimpin yang baik.
SUMBER